FTVJEMBER.COM, Jember – Nasib peternak ayam petelur di Kabupaten Jember kian terhimpit. Saat harga pakan terus merangkak naik akibat dampak penguatan dolar AS, harga telur justru anjlok di tingkat peternak.
Kondisi ini dirasakan Ahmad Mursid, peternak ayam petelur di Desa Biting, Kecamatan Arjasa, Jember. Dalam beberapa pekan terakhir, harga telur yang sempat berada di kisaran Rp 26 ribu hingga Rp 27 ribu per kilogram turun menjadi sekitar Rp 22.500 per kilogram.
Di sisi lain, biaya produksi justru terus meningkat. Harga bahan baku pakan seperti katul, jagung, dan bahan campuran lainnya mengalami kenaikan yang cukup signifikan.
“Harga telur sekarang turun jadi Rp 22.500 per kilogram. Padahal pakan terus naik. Katul yang biasanya Rp 4 ribu sekarang Rp 4.700 per kilogram,” ujar Ahmad, Sabtu (13/6/2026).
Menurutnya, kenaikan harga pakan tidak lepas dari pengaruh menguatnya nilai tukar dolar terhadap rupiah yang berdampak pada harga sejumlah bahan baku pakan ternak.
Akibatnya, margin keuntungan peternak semakin tipis. Bahkan, sebagian peternak mengaku nyaris tidak memperoleh keuntungan dari usaha yang dijalankan.
Untuk memelihara sekitar 5.000 ekor ayam petelur, Ahmad membutuhkan sekitar 5 kuintal pakan setiap hari. Biaya yang harus dikeluarkan mencapai sekitar Rp 3 juta per hari hanya untuk kebutuhan pakan.
“Kalau harga telur turun terus sementara pakan naik, ya berat sekali. Biaya operasional tidak sebanding dengan hasil penjualan,” katanya.
Agar usaha tetap berjalan, peternak terpaksa melakukan berbagai langkah efisiensi. Salah satunya dengan mengubah komposisi pakan dan menambah bahan yang harganya lebih murah untuk menekan pengeluaran harian.
Namun cara tersebut hanya menjadi solusi sementara. Sebab selisih antara kenaikan biaya produksi dan harga jual telur yang terus melemah masih belum mampu tertutupi.
Para peternak berharap harga telur segera kembali membaik sehingga usaha mereka tetap bertahan di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat.
Reporter : Suyono
