FTVJEMBER.COM, JEMBER – Sebuah rumah di dalam gang permukiman di Jember menyimpan ribuan koleksi buku lama. Ruang tamunya dipenuhi rak-rak buku, mulai dari novel, komik, buku pelajaran, hingga berbagai buku terbitan lawas.

Tempat tersebut merupakan toko buku jadul milik Mustaqim. Koleksi yang dimilikinya bahkan menjadi rujukan bagi mahasiswa dan pecinta literasi yang mencari buku-buku lama yang sulit ditemukan di toko buku modern.

Namun, di balik ribuan koleksi tersebut, tersimpan perjalanan panjang yang berawal dari berjualan koran.

Mustaqim mengaku tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Saat masih muda, ia berjualan koran dan kerap berkeliling di kawasan Pasar Loak.

Dari aktivitas itulah rasa penasarannya terhadap buku bekas muncul.

“Namanya anak-anak, saya jual koran. Dulu saya sering keluyuran ke Pasar Loak. Saya lihat kok ada buku bekas yang laku. Dari situ saya ingin tahu, kulakannya di mana, pemasarannya bagaimana,” ujar Mustaqim.

Rasa ingin tahu tersebut membuat sebagian hasil penjualan koran ia gunakan untuk membeli buku-buku bekas. Dari awalnya hanya mengumpulkan tiga kardus, Mustaqim kemudian mulai menjualnya di kawasan Jompo.

Saat itu, ia masih belum bisa membaca. Ketika ada pembeli yang mencari buku tertentu, Mustaqim bahkan meminta mereka mencari sendiri.

“Saya kumpulkan tiga dus, saya buka di Jompo. Karena saya tidak sekolah, kalau orang tanya buku, saya suruh cari sendiri,” katanya.

Namun, kondisi tersebut justru mendorongnya untuk belajar. Ia terus bertanya dan belajar dari orang-orang yang datang membeli buku, termasuk mahasiswa Universitas Jember yang kerap mendatangi tempatnya.

“Anak-anak UNEJ itu sering datang ke tempat saya. Saya berpikir, masa saya tidak bisa baca? Akhirnya saya belajar. Tiap hari saya belajar di tempat saya,” tuturnya.

Perlahan, Mustaqim mulai mampu membaca. Ia pun semakin tekun mengumpulkan buku hingga koleksinya terus bertambah.

“Alhamdulillah, saya merasa dibimbing terus oleh Allah. Akhirnya saya bisa membaca buku. Rasanya betul peribahasa bahwa membaca adalah jendela dunia,” ujarnya.

Kini, rumah Mustaqim dipenuhi ribuan koleksi buku jadul. Tempat tersebut menjadi salah satu tujuan mahasiswa, akademisi, dan pecinta buku yang mencari koleksi lama.

Bagi Mustaqim, buku bukan sekadar barang dagangan. Dari buku, ia justru menemukan jalan untuk belajar dan mengenal dunia.

“Sudah bisa baca, terus sampai saya punya koleksi sendiri,” pungkasnya.

Perjalanan Mustaqim menjadi gambaran bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi penghalang untuk belajar. Berawal dari berjualan koran dan tiga kardus buku, kini ia justru memiliki ribuan koleksi buku jadul yang terus dirawat hingga menjadi sumber pengetahuan bagi orang lain.

Reporter: Tim Liputan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *