FTVJEMBER.COM, JEMBER – Aksi demonstrasi menolak rencana pinjaman utang daerah Pemerintah Kabupaten Jember berujung ricuh pada Senin (10/8/2026). Seorang peserta aksi mengaku menjadi korban penganiayaan berupa pencekikan yang diduga dilakukan oleh oknum kepala desa saat unjuk rasa berlangsung di Gedung DPRD Jember.
Tak terima atas perlakuan kasar tersebut, korban bersama puluhan massa aksi mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Mapolres Jember untuk membuat laporan resmi.
Usai melapor ke kepolisian, massa menggeruduk Kantor Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Jember pada Senin siang. Mereka mencari keberadaan oknum kepala desa yang diduga melakukan pencekikan, yang saat itu diketahui tengah menghadiri rapat bersama Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Jember.
Suasana kembali memanas saat massa berhasil menemui deretan kepala desa di lokasi. Ketegangan dan adu mulut tak terhindarkan sebelum akhirnya aparat kepolisian turun tangan memisahkan kedua belah pihak agar kericuhan tidak meluas.
Peserta aksi yang menjadi korban pencekikan, Muhamad Busairi, menceritakan bahwa insiden itu bermula saat dirinya berniat melerai dorongan antarpeserta dan oknum aparat/pejabat di tengah kroditnya massa aksi di Gedung DPRD. Namun, ia justru mendadak diserang dan dicekik.
“Ada temen saya lewat disenggol, sengaja diseronggokkan, saya lerai. ‘Mas ada apa? Kamu kenapa?’ Suara saya agak sulit keluar ini, waktu ngawal temen-temen di gedung dewan tadi. Kita mau masuk dihalang-halangi, terus saya lerai ketika menjongrokkan teman saya, saya lerai. Tiba-tiba dia berbalik malah langsung mencekik saya,” ungkap Busairi.
Busairi menduga pelaku merupakan seorang pejabat desa yang saat itu mengenakan atribut resmi tanpa tanda pengenal nama.
“Kalau tidak salah infonya itu Kades Kawangrejo, pake atribut cuman tidak ada tanda pengenal. Tidak sempat adu pukul, cuman langsung dilerai tadi kan krodit banyak sekali orang. Jadi kita sama-sama dilerai. Ya terus akhirnya kami kesini setelah urusan kami selesai, melaporkan kejadiannya,” jelasnya.
Menanggapi insiden tersebut, Ketua APDESI Jember, Kamiludin, menyatakan keprihatinannya atas ricuhnya aksi penyampaian pendapat tersebut. Pihaknya mengaku sempat mengupayakan penyelesaian secara kekeluargaan sebelum kasus ini berlanjut ke ranah hukum.
“Terus terang kami prihatin dan sangat menyayangkan kejadian tadi pagi. Karena kami selaku pemerintah desa bersama kepala desa dan juga saudara-saudara kami para aksi tadi sama-sama memiliki hak yang sama, menyampaikan pendapat di depan umum. Jadi di mata hukum sama semua,” ujar Kamiludin.
Ia menambahkan, upaya mediasi yang sempat ditawarkan akhirnya tidak membuahkan hasil sehingga proses hukum diserahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian.
“Terus terang kejadian tadi, kami mengajak kepada kawan-kawan semua untuk menyelesaikan secara kekeluargaan, namun ternyata buntu dan sudah kami serahkan ke supremasi hukum yang ada di Kabupaten Jember,” tambahnya.
Aksi unjuk rasa dan penggerudukan tersebut akhirnya dibubarkan secara kondusif setelah pihak kepolisian menenangkan massa serta meminta seluruh pihak menahan diri dan menghormati proses hukum yang berjalan.
Reporter: Suyono
