FTVJEMBER.COM, JEMBER – Kain batik tak hanya menjadi bagian dari dunia fesyen, tetapi juga dapat menjadi media untuk mengenalkan potensi daerah. Hal inilah yang dilakukan Rumah Batik Karimata di Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, Jawa Timur, dengan mengangkat berbagai komoditas khas Jember ke dalam motif batik.
Beragam potensi lokal seperti tembakau, kopi, dan kakao menjadi sumber inspirasi dalam menciptakan motif batik. Melalui motif tersebut, Batik Karimata berupaya memperkuat identitas Jember sekaligus mempertahankan kearifan lokal agar tetap dikenal masyarakat.
Pemilik Rumah Batik Karimata, Yudiarti, mengatakan usaha batik tersebut mulai memproduksi kain batik sendiri sejak 2021. Awalnya, usaha ini muncul karena adanya kebutuhan kain batik untuk membuat songkok khas Jember.
“Sebelumnya untuk kebutuhan kain batik membuat songkok khas Jember masih membeli. Kemudian kami bersama teman-teman memutuskan untuk memproduksi kain batik sendiri,” ujar Yudiarti.
Seiring berkembangnya usaha, Batik Karimata tidak hanya memproduksi kain batik untuk kebutuhan songkok. Mereka mulai mengembangkan berbagai motif yang secara khusus menonjolkan ciri khas dan potensi Kabupaten Jember.
Salah satu konsep yang dikembangkan adalah mengangkat komoditas pertanian dan perkebunan yang selama ini identik dengan Jember. Tembakau, daun kopi, hingga kakao kemudian dituangkan ke dalam berbagai desain motif batik.
Menurut Yudiarti, pemilihan komoditas tersebut bukan tanpa alasan. Berbagai tanaman tersebut merupakan bagian dari potensi daerah yang dinilai memiliki nilai budaya sekaligus ekonomi bagi masyarakat Jember.
“Batik Karimata mempunyai ciri khas Jember, yaitu memproduksi komoditas yang ada di Jember. Inspirasinya dari apa yang ada di Jember, kita tonjolkan komoditas yang ada di Jember, salah satunya tembakau, daun kopi, dan kakao,” jelasnya.
Dalam proses pembuatannya, kain batik melalui sejumlah tahapan. Mulai dari pembuatan pola, mencanting, hingga proses pewarnaan kain dilakukan secara bertahap dan membutuhkan ketelitian.
Tidak hanya mengandalkan satu bentuk motif, Batik Karimata juga terus melakukan inovasi. Unsur tanaman maupun hewan diaplikasikan ke dalam berbagai bentuk gambar sehingga menghasilkan motif yang lebih beragam.
Meski mengalami pengembangan dari sisi visual, filosofi dari komoditas yang diangkat tetap dipertahankan. Satu jenis komoditas dapat dituangkan ke dalam beberapa bentuk motif yang berbeda.
“Supaya konsumen tidak bosan, pemilik selalu berinovasi dengan cara mengaplikasikan tanaman dan hewan. Jadi tetap mempertahankan filosofi, tetapi satu komoditas bisa digambarkan dalam bentuk yang berbeda,” kata Yudiarti.
Inovasi tersebut sekaligus menjadi strategi Batik Karimata untuk memberikan lebih banyak pilihan kepada konsumen. Dengan variasi desain, kain batik yang dihasilkan diharapkan tidak terkesan monoton dan dapat diterima oleh berbagai kalangan.
Bagi Batik Karimata, setiap motif yang dituangkan ke atas kain memiliki cerita tersendiri. Tembakau, kopi, dan kakao tidak sekadar menjadi ornamen, tetapi membawa pesan tentang kekayaan alam dan potensi yang dimiliki Kabupaten Jember.
Melalui pengembangan motif berbasis kearifan lokal, Batik Karimata ingin menjadikan kain batik sebagai salah satu media untuk memperkenalkan identitas daerah.
Upaya tersebut juga menjadi bagian dari pelestarian budaya lokal. Di tengah perkembangan tren fesyen dan perubahan selera konsumen, inovasi motif dinilai penting agar batik tetap diminati tanpa meninggalkan nilai dan filosofi yang terkandung di dalamnya.
Dengan memadukan kreativitas dan potensi daerah, Batik Karimata berharap batik khas Jember tidak hanya dikenal sebagai produk fesyen, tetapi juga sebagai karya yang merepresentasikan kekayaan dan kearifan lokal masyarakat Jember.
Reporter : Tim liputan
Editor: Suyono
