FTVJEMBER.COM, JEMBER – Dampak musim kemarau panjang mulai memicu penurunan debit air secara signifikan di sepanjang aliran Sungai Bedadung yang membelah kawasan pusat Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Penurunan debit air terbilang sangat mencolok di area aliran Sungai Bedadung yang melintasi Kelurahan Jember Lor, Kecamatan Patrang. Sungai yang biasanya berarus deras dan kerap meluap saat musim hujan tersebut, kini dangkal hingga menyingkap bagian dasar sungai di beberapa titik.
Kondisi sungai yang mengering ini lantas dimanfaatkan oleh warga di sekitar bantaran untuk melakukan berbagai aktivitas, mulai dari menjemur pakaian, mengeringkan nasi sisa, hingga berburu batu pondasi bangunan di dasar sungai.
Salah seorang warga setempat, Maryati, mengaku memanfaatkan area bebatuan dasar sungai yang tersingkap terik matahari untuk menjemur pakaian serta nasi sisa agar lebih cepat kering.
“Mau bawa pulang masih belum kering karena airnya kan surut. Tidak ada hujan, jadi Sungai Bedadung kering jadi bisa jemur di sungai. Kalau ndak, kalau besar airnya ndak bisa jemur, otomatis di rumah ya sekadarnya itu jemurnya,” ujar Maryati pada Sabtu (29/8/2026).
Maryati menuturkan bahwa terik matahari di dasar sungai yang terbuka membuat jemuran jauh lebih cepat kering dibanding di halaman rumah. Namun di sisi lain, surutnya air sungai membuat warga kesulitan mengakses air untuk kebutuhan harian, sementara sumur sumber warga juga mulai menipis.
“Lebih menyengat, soalnya panas kan luas, jadi cepat kering. Ya, kalau jemur di rumah ndak bisa kering ya, mungkin ya kering tapi ndak bisa kering semuanya. Kalau mandi ya ada sumber, tapi sumbernya itu ya agak surut juga. Soalnya kemarau sekarang. Biasanya ya di sungai, soalnya sungainya sudah kecil gini ndak bisa,” terangnya.
Selain menjemur pakaian, susutnya debit air juga dimanfaatkan warga lain untuk mengumpulkan material batu kali dari dasar sungai. Sumarji, seorang warga sekitar, memanfaatkan momen ini untuk mencari bebatuan guna kebutuhan pondasi bangunan rumahnya.
“Saya mencari batu buat pondasi bangunan. Ya karena airnya sudah agak kering, jadi batunya gampang carinya… dibuat sendiri,” ungkap Sumarji.
Fenomena mengeringnya Sungai Bedadung ini menyajikan pemandangan kontras di sepanjang bantaran. Sisa-sisa reruntuhan bangunan bekas terdampak banjir bandang beberapa waktu lalu masih terlihat jelas di tepi sungai, menjadi pengingat bagi warga agar tetap waspada saat siklus musim hujan kembali tiba.
Reporter: Anas Hidayat
Editor: Suyono
