FTVJEMBER.COM, JEMBER – Mitologi Macan Si Kopek yang selama ini hidup dalam cerita tutur masyarakat Desa Biting, Kecamatan Arjasa, Jember, dihidupkan kembali melalui pertunjukan seni bertajuk Ngarak Si Kopek.

Pertunjukan tersebut digelar dalam rangkaian selamatan desa, Sabtu malam. Ratusan warga turut mengikuti arak-arakan oncor atau obor tradisional sebagai bagian dari kegiatan.

Macan Si Kopek dalam cerita masyarakat setempat dipercaya sebagai sosok penjaga Desa Biting. Kisah tersebut sebelumnya telah dibukukan dalam Babad Biting.

Pembina Sanggar Omah Wetan, Abdul Rashid, mengatakan cerita tutur tersebut kemudian diterjemahkan kembali dalam bentuk seni pertunjukan agar lebih mudah dikenal oleh masyarakat, khususnya generasi muda.

“Malam ini kita mengangkat mitologi di desa kami, Macan Si Kopek. Cerita tersebut berangkat dari cerita tutur yang telah kami bukukan menjadi Babad Biting, lalu kami terjemahkan kembali melalui pagelaran kesenian Ngarak Si Kopek,” ujar Abdul Rashid.

Menurutnya, secara filosofis Si Kopek dimaknai sebagai pangrekso atau penjaga Desa Biting. Makna tersebut juga berkaitan dengan hubungan manusia dengan alam.

“Kami memahaminya sebagai penjaga yang berkaitan dengan faktor alam, bagaimana kita merawat alam dan berkomunikasi dengan alam,” katanya.

Inovasi pertunjukan tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan Universitas Jember. Cerita tutur Macan Si Kopek diterjemahkan ke dalam seni rupa dan seni gerak, termasuk melalui pembuatan maskot serta instrumen musik tradisional portabel yang disebut Klondang Kopekan.

Ketua Tim Pengabdian Program Inovasi Seni Nusantara, Fitri Nur Amurti, mengatakan inovasi tersebut dilakukan untuk mengubah tradisi tutur menjadi bentuk seni yang lebih mudah diterima generasi muda.

“Inovasi yang kami buat adalah mengubah tradisi tutur menjadi tradisi yang lebih mudah diterima oleh generasi muda, salah satunya melalui seni pertunjukan,” kata Fitri.

Ia menjelaskan, salah satu fokus inovasi tersebut adalah menghidupkan kembali mitologi Macan Kopek sekaligus memvisualisasikannya melalui karya seni.

“Kami dibantu beberapa perupa dan pemahat asli Jember untuk memvisualisasikan mitos Macan Kopek menjadi maskot dan satu set instrumen tradisional yang lebih dinamis dan portabel yang kami sebut Klondang Kopekan,” ujarnya.

Melalui pertunjukan tersebut, generasi muda diharapkan tidak hanya mengenal cerita Macan Si Kopek, tetapi juga ikut menjaga dan mengembangkan identitas budaya daerah.

Reporter: Anas Hidayat
Editor: Suyono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *