FTVJEMBER.COM, JEMBER – Hobi batu akik yang sempat booming beberapa tahun lalu justru membuka jalan bagi Andika Lindiansyah untuk menekuni kerajinan akar bahar. Dari bahan yang dikenal berasal dari laut tersebut, warga Jember, Jawa Timur, ini menghasilkan berbagai produk kerajinan bernilai hingga jutaan rupiah.

Beragam kerajinan akar bahar dapat ditemui di tempat kerja Andika. Mulai dari gelang, cincin, hingga pegangan atau handle keris. Seluruh produk tersebut dibuat secara manual dengan mengandalkan ketelitian dan keterampilan tangan.

Andika mengaku awalnya tidak langsung menekuni akar bahar. Ia terlebih dahulu menggeluti batu akik ketika tren batu akik sedang booming.

“Yang best seller di sini memang saya utamakan akar bahar. Tapi batu akik tetap saya kerjakan sampai sekarang,” kata Andika Lindiansyah.

Kecintaannya terhadap batu akik kemudian membuat Andika mencari berbagai bahan yang bisa dipadukan dengan batu tersebut. Dari proses itulah, ia mulai mengenal akar bahar dan tertarik untuk mengolahnya menjadi berbagai kerajinan.

Sejak 2013, Andika mulai serius menekuni akar bahar. Hingga kini, bahan tersebut menjadi salah satu produk yang paling banyak dikerjakannya.

Membuat kerajinan akar bahar tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Bahan terlebih dahulu dibentuk sesuai desain, kemudian diamplas agar permukaannya lebih halus.

Setelah itu, bagian-bagian tertentu diberi lem, dibor, hingga diukir jika membutuhkan motif khusus. Setiap tahapan membutuhkan ketelitian agar bahan tidak rusak.

Untuk produk sederhana seperti gelang dengan desain polos, Andika membutuhkan waktu sekitar 30 hingga 40 menit. Namun, waktu pengerjaan bisa lebih lama jika produk memiliki ukuran lebih besar atau ukiran yang lebih rumit.

“Kalau kita buat seperti ini, polos seperti ini, mungkin membutuhkan 30 sampai 40 menit,” ujarnya.

Menurut Andika, salah satu tantangan dalam membuat kerajinan akar bahar adalah menjaga fokus selama proses pengerjaan. Kesalahan saat mengamplas, mengebor, atau mengukir tidak hanya berisiko merusak bahan, tetapi juga dapat menyebabkan perajin mengalami luka.

Ia pernah mengalami kejadian ketika serpihan bahan terlempar dan mengenai bagian dahinya hingga terluka.

“Kalau kita tidak fokus, kita bisa kena ke tangan atau meleset. Pernah juga serpihan akar bahar kena ke dahi sampai bocor,” ungkapnya.

Karena itu, selain kesabaran, menurut Andika, perajin juga harus memiliki inisiatif dan memahami teknik pengolahan bahan.

“Tekniknya yang pertama harus sabar dan punya inisiatif sendiri,” katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan produksi, Andika mendapatkan bahan akar bahar dari sejumlah daerah. Di antaranya Makassar, Papua, serta Madura-Kangean.

Bahan yang masih dalam bentuk mentah kemudian dipilih dan diolah sesuai dengan kebutuhan. Karakteristik bahan turut menentukan jenis produk yang bisa dibuat.

Setelah melalui proses pengerjaan, akar bahar dapat disulap menjadi berbagai macam kerajinan. Produk tersebut kemudian dipasarkan dengan harga yang bervariasi.

Harganya mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung ukuran, jenis bahan, serta tingkat kerumitan desain dan ukirannya.

Salah satu produk yang dibuat Andika adalah pegangan keris. Seluruh bagian handle tersebut dapat menggunakan akar bahar sehingga menghasilkan tampilan yang memiliki karakter tersendiri.

“Handle-nya seperti gagang keris ini, semuanya terbuat dari akar bahar,” jelasnya.

Bagi Andika, apa yang awalnya hanya berangkat dari hobi kini telah berkembang menjadi keterampilan sekaligus sumber penghasilan.

Ia pun berharap kerajinan akar bahar yang dibuatnya semakin dikenal masyarakat dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Dengan ketekunan dan keterampilan yang terus diasah, Andika berupaya mempertahankan kerajinan berbahan akar bahar sekaligus mengembangkan berbagai bentuk dan desain baru agar memiliki nilai ekonomi yang semakin tinggi.

Reporter: Tim Liputan
Editor: Suyono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *