REDAKSIFTV.COM, JEMBER – Ratusan petani tebu di Kabupaten Jember mengikuti konsolidasi bersama Bupati Jember, Muhammad Fawait, guna menjaga stabilitas harga gula pada musim giling 2026. Dalam pertemuan tersebut, petani menyoroti ancaman kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) serta fluktuasi harga akibat rembesan gula rafinasi.
Kegiatan yang digelar di salah satu aula rumah makan di Kecamatan Kaliwates, Sabtu siang, itu menjadi ajang penyampaian berbagai persoalan krusial yang dihadapi petani. Mulai dari dampak geopolitik global hingga ketersediaan energi saat musim panen.
Ketua APTR PG Glenmore, Siswono, mengatakan kondisi global pasca konflik di Timur Tengah turut berdampak pada ketersediaan BBM di Indonesia, khususnya solar untuk kebutuhan distribusi tebu.
“Melihat kondisi dunia pasca perang di Timur Tengah, ini jelas berdampak ke Indonesia. Kami meminta pemerintah memastikan tidak terjadi kelangkaan BBM, khususnya solar, saat musim panen mulai Mei. Selain itu, stabilitas harga gula juga perlu dijaga karena rembesan gula rafinasi sangat berpengaruh. Tahun lalu harga gula jatuh akibat faktor cuaca dan rendahnya kadar gula, sehingga kami berharap ada pengendalian dari pemerintah,” ujarnya.
Selain itu, petani juga mendorong pembangunan pabrik gula baru di Jember. Pasalnya, potensi lahan tebu di daerah ini dinilai sangat besar, namun belum didukung fasilitas pengolahan yang memadai.
Menurut Siswono, luas lahan tebu di Jember bisa mencapai sekitar 16 ribu hektare jika digabungkan dengan lahan milik pemerintah dan swasta. Kondisi ini dinilai sangat memungkinkan untuk pembangunan pabrik gula baru guna meningkatkan daya saing dan kesejahteraan petani.
Sementara itu, Pengurus APTR PG Glenmore, Ade Prasetyo, menjelaskan pembangunan pabrik gula membutuhkan pasokan tebu dalam jumlah besar serta investasi yang tidak sedikit.
“Untuk membangun pabrik gula baru dibutuhkan minimal 4 ribu ton tebu per hari dengan nilai investasi di atas Rp1 triliun. Karena itu, diperlukan kerja sama antara pemerintah daerah dan investor. Ke depan, pabrik juga bisa menghasilkan listrik mandiri dari ampas tebu sehingga lebih efisien,” ujarnya.
Dengan adanya kolaborasi antara pemerintah dan investor, para petani berharap sektor pertebuan di Jember kembali bergeliat dan mampu meningkatkan kesejahteraan mereka di masa mendatang.
Reporter: Suyono
