FTVJEMBER.COM, JEMBER – Kisah pilu dialami seorang balita berusia 14 bulan asal Kecamatan Panti, Kabupaten Jember. Di usia emas pertumbuhannya, balita bernama Armada harus menjalani kehidupan tanpa kehadiran sang ibu yang meninggalkannya sejak masih berusia tiga bulan. Kini, ia diasuh oleh kakek dan neneknya yang telah lanjut usia dan sama-sama menderita penyakit hipertensi.
Kondisi keluarga tersebut menjadi perhatian Puskesmas Panti. Melalui program jemput bola, tenaga kesehatan rutin mendatangi rumah keluarga Armada yang berada di kawasan perbatasan Dusun Prapah, Desa Panti, untuk memastikan tumbuh kembang balita tersebut tetap terpantau sekaligus memberikan pelayanan kesehatan kepada seluruh anggota keluarga.
Kunjungan dilakukan sebagai bagian dari upaya percepatan penanganan stunting di Kabupaten Jember. Selain memeriksa kondisi Armada, petugas juga memantau kesehatan kakek dan neneknya yang setiap hari merawat sang cucu di tengah kondisi fisik yang mulai menurun.
Sehari-hari, Armada diasuh oleh Arno (73) dan Kasimah (66). Sementara ayahnya bekerja serabutan sebagai pencuci ompreng di salah satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sehingga tidak bisa mendampingi anaknya sepanjang hari.
Kondisi keluarga tersebut semakin berat karena selain mengasuh Armada, pasangan lansia itu juga merawat anak pertamanya yang mengalami Down Syndrome dan membutuhkan perawatan setiap hari. Di sisi lain, keduanya juga rutin menjalani pengobatan akibat hipertensi yang diderita.
Melihat kondisi tersebut, Puskesmas Panti tidak hanya fokus pada penanganan stunting Armada, tetapi juga memberikan pelayanan kesehatan kepada seluruh anggota keluarga. Petugas membawa obat-obatan, melakukan pemeriksaan kesehatan, hingga memastikan kebutuhan gizi balita tetap terpenuhi.
Ni Nyoman Budiari, Tenaga Teknis Farmasi Puskesmas Panti, mengatakan kunjungan dilakukan secara berkala agar keluarga yang memiliki keterbatasan tetap mendapatkan pelayanan kesehatan secara optimal.
> “Kami melakukan kunjungan karena Armada merupakan anak stunting yang membutuhkan pendampingan dari puskesmas. Kakek dan neneknya juga menderita hipertensi, sehingga kami membawa obat sekaligus melakukan pemeriksaan kesehatan. Kakaknya yang mengalami gangguan kejiwaan juga kami berikan obat. Sementara untuk Armada, pemberian makanan tambahan (PMT), susu, dan PMT lokal dilakukan secara rutin setiap hari,” ujarnya.
Selain memberikan pengobatan, petugas kesehatan juga terus melakukan edukasi kepada keluarga mengenai pola asuh, pemenuhan gizi, serta pentingnya memantau berat badan dan tinggi badan balita secara berkala agar pertumbuhan Armada dapat terus membaik.
Program jemput bola yang dilakukan Puskesmas Panti menjadi salah satu bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Jember dalam menjangkau kelompok masyarakat rentan yang mengalami keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan. Dengan mendatangi langsung rumah warga, diharapkan tidak ada balita yang kehilangan kesempatan memperoleh pelayanan kesehatan hanya karena kendala ekonomi maupun jarak.
Pemkab Jember juga terus mendorong kolaborasi antara puskesmas, pemerintah desa, kader kesehatan, hingga keluarga dalam upaya menekan angka stunting. Pendampingan secara berkelanjutan dinilai menjadi kunci agar kondisi anak dapat terus dipantau hingga tumbuh sehat sesuai usianya.
Reporter: Anas Hidayat
Editor: Suyono
