ftvjember.com, JEMBER – Kemarau panjang mulai berdampak terhadap sektor pertanian di Kabupaten Jember. Sedikitnya 200 hektare tanaman padi di wilayah Jember bagian utara dilaporkan mengalami gagal panen akibat kekurangan pasokan air selama tiga pekan terakhir.
Salah satu lokasi terdampak berada di Desa Candijati, Kecamatan Arjasa. Hamparan tanaman padi tampak mengering, sebagian besar menjadi kerdil, bulir padi kosong, dan tidak berkembang secara normal karena minimnya pasokan air dari saluran irigasi.
Kondisi tersebut membuat tanaman padi yang telah berusia sekitar 80 hari gagal memasuki masa panen. Petani pun terancam mengalami kerugian besar karena hasil panen tidak dapat diselamatkan.
Salah seorang petani Desa Candijati, Feriyanto, mengatakan sawahnya sudah tiga minggu tidak mendapatkan aliran air. Akibatnya, tanaman padi mengalami kerusakan parah dan bulirnya banyak yang kosong.
“Sawah ini sudah tiga minggu tidak mendapat air. Padinya sudah berusia sekitar 80 hari dan mendekati panen, tetapi air tidak ada. Mau menyedot juga tidak ada sumber air. Kondisi padinya rusak semua dan bulirnya banyak yang kosong,” ujar Feriyanto.
Ketua Forum Komunikasi Petani Jember, Jumantoro, mengatakan dampak kekeringan terjadi di sejumlah wilayah Jember bagian utara, di antaranya Kecamatan Sukowono, Jelbuk, Arjasa, Pakusari, hingga beberapa kecamatan lainnya yang memasuki musim tanam kedua.
Menurutnya, minimnya debit air irigasi menyebabkan tanaman padi kekurangan air saat memasuki fase pengisian bulir sehingga banyak yang rusak bahkan gagal panen.
“Berdasarkan laporan petani di Sukowono, Jelbuk, Arjasa, Pakusari, dan beberapa wilayah Jember utara, tanaman padi musim tanam kedua mengalami kekurangan air saat pengisian bulir. Akibatnya banyak bulir yang kosong dan di beberapa titik terjadi gagal panen. Luas lahan terdampak di Jember utara diperkirakan mencapai 100 hingga 200 hektare, sedangkan di Kecamatan Arjasa sekitar 25 hingga 50 hektare,” jelas Jumantoro.
Forum Komunikasi Petani Jember mencatat produktivitas padi tahun ini turun sekitar 20 hingga 50 persen per hektare. Jika sebelumnya petani mampu menghasilkan sekitar enam ton gabah per hektare, kini hasil panen di sejumlah wilayah hanya berkisar tiga ton.
Petani berharap pemerintah segera mengambil langkah antisipasi dengan menjaga ketersediaan air irigasi agar dampak kekeringan tidak semakin meluas pada musim tanam berikutnya.
Reporter: Suyono
