FTVJEMBER.COM, JEMBER – Kekeringan melanda ratusan hektare lahan persawahan di Desa Mayangan dan Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, Jember, Jawa Timur.

Sekitar 500 hektare lahan pertanian terdampak krisis air. Kondisi ini membuat tanaman padi yang sudah ditanam mengering dan mati, sementara sebagian petani terpaksa menunda penanaman.

Petani Padi asal wilayah setempat, Suparlan, mengatakan tanaman padi yang telah ditanam selama sekitar satu bulan terancam gagal akibat tidak adanya pasokan air.

“Bisa gagal. Sudah terlanjur tanam semua. Kalau yang sudah tanam padi ini perkiraan ada 20-an hektare, dari ujung sana ke sini yang sudah tanam padi. Mati, namanya sudah enggak ada air,” kata Suparlan.

Menurutnya, kerugian yang ditanggung petani cukup besar karena biaya pembajakan lahan, penanaman, hingga pembelian pupuk sudah dikeluarkan.

“Kalau rugi, jangan ditanyakan. Namanya sudah ditanam. Tanamnya, pembajakannya, yang lagi tanam, apalagi sudah pupuk. Ini sudah satu bulanan,” ujarnya.

Sementara itu, Pengurus Gapoktan Mayangan, Muhammad Said, mengatakan kekeringan memang terjadi akibat musim kemarau. Namun, petani sebenarnya berharap masih mendapat pasokan air dari pembangunan dam pelimpah di wilayah Desa Kepanjen.

Dam tersebut diharapkan dapat mengalihkan sebagian aliran Sungai Tanggulama ke arah timur untuk mengairi areal pertanian di Kepanjen dan Mayangan.

“Kita harapkan dengan cuaca kemarau seperti ini kita masih dapat suplai dari adanya pembangunan dam pelimpah yang ada di wilayah Desa Kepanjen. Kita berharap air dari Sungai Tanggulama masih bisa berbelok ke timur ke wilayah areal pertanian yang ada di wilayah Kepanjen dan Mayangan,” jelas Muhammad Said.

Namun, menurutnya, dam pelimpah tersebut saat ini tidak berfungsi sehingga air justru mengalir langsung ke arah selatan menuju laut.

“Kondisinya karena tidak berfungsinya dam, maka air itu tidak bisa mengalir ke sini. Semua langsung mengalir ke selatan, ke laut. Jadi petani akhirnya tidak bisa melakukan kegiatan penanaman padi yang sudah kita siapkan sebelumnya,” katanya.

Akibat kondisi tersebut, sebagian petani yang telah melakukan persemaian tidak dapat memindahkan bibit ke lahan persawahan. Sementara tanaman yang sudah terlanjur ditanam juga terancam gagal.

“Kalau yang sudah tanam ada juga, tapi rata-rata mereka gagal tanam karena memang tidak ada air. Kita sudah melakukan persemaian padi, tetapi dari persemaian itu tidak bisa kita tanam di lahan-lahan kita. Sudah enggak mungkin ditolong,” imbuhnya.

Muhammad Said menyebut luas lahan yang terdampak mencapai sekitar 500 hektare. Petani berharap pemerintah segera melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap dam pelimpah agar dapat berfungsi optimal dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Jadi proyek itu bagi kami proyek gagal, ya tidak bisa memberikan manfaat, dampak apa pun kepada petani,” pungkasnya.

Muhammad Said menyebut luas lahan yang terdampak mencapai sekitar 500 hektare. Kondisi ini membuat petani di wilayah hilir Gumukmas kesulitan mempertahankan tanaman padi maupun memulai musim tanam berikutnya.

Para petani berharap pemerintah segera melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap dam pelimpah di Desa Kepanjen. Mereka berharap keberadaan dam tersebut dapat kembali berfungsi optimal sehingga pasokan air ke lahan pertanian tetap tersedia, terutama selama musim kemarau.

Reporter: Suyono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *