FTVJEMBER.COM, JEMBER – Harapan petani di Desa Karang Kedawung, Kecamatan Mumbulsari, Kabupaten Jember, untuk menikmati hasil panen musim ini pupus. Belasan hektare tanaman padi yang sudah memasuki masa panen rusak parah setelah diserang hama wereng coklat dan tikus. Akibatnya, petani dipastikan mengalami gagal panen dengan kerugian yang diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.

Serangan hama terjadi dalam dua pekan terakhir dan menyerang tanaman padi berusia sekitar 60 hingga 80 hari. Kondisi tanaman yang semula siap dipanen kini berubah menguning hingga mengering seperti terbakar. Sementara bulir padi banyak yang kosong sehingga tidak dapat dipanen.

Para petani mengaku kondisi tersebut berbeda dengan biasanya. Wereng coklat umumnya muncul saat curah hujan tinggi, namun kali ini justru menyerang pada musim kemarau. Mereka menduga penyebaran hama berlangsung sangat cepat karena terbawa angin dari lahan pertanian lain yang lebih dahulu terinfeksi.

Berbagai upaya pengendalian sebenarnya telah dilakukan, mulai dari penyemprotan insektisida hingga pengawasan rutin di area persawahan. Namun penyebaran wereng tidak berhasil dihentikan dan terus meluas ke lahan lainnya.

Salah seorang petani, Suswanto, mengatakan serangan wereng terjadi hampir di seluruh lahan di wilayahnya. Menurutnya, ketika tanaman sudah terserang, peluang untuk menyelamatkan hasil panen hampir tidak ada.

> “Padi saya dan sawah di sekitarnya, sekitar 10 hektare, terkena hama wereng. Kondisinya gosong seperti ini. Penyebarannya dari sawah sebelah lalu berpindah ke sawah lain, bahkan bisa terbawa angin dari wilayah lain. Kalau sudah terkena wereng, petani gagal panen total,” ujar Suswanto.

Tidak hanya menghadapi serangan wereng, petani juga dibuat kewalahan oleh hama tikus. Tikus merusak batang tanaman sekaligus memakan bulir padi sehingga tingkat kerusakan semakin parah. Kondisi tersebut membuat biaya perawatan yang telah dikeluarkan petani menjadi sia-sia.

Petani lainnya, Muhammad Holik, mengungkapkan berbagai cara telah dilakukan untuk menekan populasi tikus, termasuk menggunakan racun. Namun hasilnya belum efektif karena pengendalian tidak dilakukan secara serentak di seluruh area persawahan.

> “Tanaman padi juga diserang tikus. Batangnya dimakan hingga tanaman mati. Kami sudah mencoba menggunakan racun tikus, tetapi hasilnya belum maksimal karena pengendalian tidak dilakukan secara serentak. Kalau dilakukan bersama-sama, kemungkinan hasilnya akan lebih efektif,” katanya.

Berdasarkan data Kelompok Tani Desa Karang Kedawung, luas lahan yang terdampak mencapai sekitar 15 hektare. Seluruh lahan tersebut diperkirakan mengalami gagal panen akibat kombinasi serangan wereng coklat, tikus, bahkan burung yang ikut merusak tanaman menjelang panen.

Pengurus Kelompok Tani Desa Karang Kedawung, Abdul Gafur, mengatakan penyemprotan insektisida yang dilakukan petani tidak memberikan hasil maksimal karena hama terus berpindah dari sawah lain.

> “Di sini ada sekitar 15 hektare tanaman padi yang memasuki masa panen, tetapi gagal panen akibat serangan wereng hingga tanaman gosong. Penyemprotan sudah dilakukan, namun hasilnya nihil karena wereng terus berpindah dari sawah lain. Biaya tanam untuk satu hektare mencapai sekitar Rp15 juta. Selain wereng, petani juga menghadapi serangan tikus dan burung,” jelas Abdul Gafur.

Dengan biaya produksi sekitar Rp15 juta untuk setiap hektare lahan, para petani kini tidak hanya kehilangan hasil panen, tetapi juga terancam tidak mampu mengembalikan modal yang telah mereka keluarkan sejak masa tanam. Mereka berharap pemerintah segera memberikan pendampingan sekaligus langkah pengendalian hama secara terpadu agar serangan tidak semakin meluas ke wilayah pertanian lainnya.

Reporter: Suyono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *