FTVJEMBER.COM, Jember – Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan Malang Kampus I Jember menginisiasi Gerakan Masyarakat Peduli Kesehatan Ibu dan Anak (Gema KIA) di Desa Glagahwero, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Program pengabdian masyarakat yang digelar selama dua hari, Selasa hingga Rabu (20–21/10/2026), ini bertujuan memperkuat keterlibatan masyarakat dalam mencegah stunting dan pernikahan dini melalui edukasi serta koordinasi lintas sektor.
Kegiatan tersebut melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama, kader posyandu, serta ibu hamil dan keluarganya. Pendekatan ini dilakukan untuk membangun kepedulian bersama terhadap kesehatan ibu dan anak, tidak hanya mengandalkan tenaga kesehatan.
Penanggung jawab wilayah binaan Desa Glagahwero Poltekkes Kemenkes Malang, I Gusti Ayu Karnasih, mengatakan penanganan ibu hamil dengan kekurangan energi kronis (KEK) dan anak stunting perlu disertai perhatian terhadap faktor sosial di lingkungan sekitar.
“Kami tidak hanya melakukan penanganan langsung terhadap ibu hamil dengan KEK dan bayi stunting, tetapi juga melihat penyebabnya, salah satunya kurangnya dukungan dan kepedulian masyarakat. Karena itu, kami berkoordinasi dengan bidan puskesmas dan pemerintah desa untuk membentuk wadah gerakan masyarakat yang dapat mendukung kesehatan ibu dan anak,” ujar Karnasih.
Menurutnya, melalui Gema KIA, masyarakat diharapkan lebih peduli terhadap kondisi ibu hamil dan anak di lingkungannya. Apabila ditemukan persoalan, termasuk kehamilan berisiko maupun pernikahan dini, warga diharapkan segera berkoordinasi dengan pihak terkait agar penanganan dapat dilakukan sejak awal.
Kepala Puskesmas Panti, Nur Falakhis Shoima, menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menilai pendekatan advokasi dan pemberdayaan masyarakat penting untuk meningkatkan kesadaran warga dalam menjaga kesehatan.
“Kami lebih menyukai kegiatan seperti ini, yakni advokasi yang dapat memunculkan motivasi lintas sektor untuk peduli terhadap kesehatan masyarakat. Kesehatan sangat berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat, bukan hanya teori. Jika masyarakat lebih sadar dan peduli terhadap kesehatannya, upaya pencegahan bisa diperkuat sehingga beban pelayanan kesehatan juga dapat dikurangi,” jelasnya.
Sementara itu, Camat Panti, Hendra Kusuma, menilai pelibatan tokoh masyarakat, tokoh agama, Fatayat, dan Muslimat menjadi langkah strategis karena kelompok tersebut dekat dengan kehidupan warga.
Ia berharap koordinasi antara pemerintah desa, kecamatan, puskesmas, Kantor Urusan Agama (KUA), serta berbagai unsur masyarakat dapat diperkuat untuk mencegah pernikahan dini.
“Harapannya, semua pihak dapat bergerak bersama, mulai dari KUA, tenaga kesehatan, puskesmas, pemerintah desa hingga kecamatan. Dengan koordinasi yang lebih baik, kami berharap angka pernikahan dini di Kecamatan Panti dapat ditekan,” kata Hendra.
Melalui Gema KIA, Poltekkes Kemenkes Malang Kampus I Jember berharap terbentuk jejaring masyarakat yang mampu mengenali persoalan kesehatan ibu dan anak lebih dini serta mendorong penanganan yang cepat melalui kerja sama lintas sektor.
Reporter: Anas Hidayat
Editor: Suyono
