FTVJEMBER.COM, Jember – Ketegangan antara organisasi Madas Sedarah dan Laskar Jahanam di Kabupaten Jember akhirnya berujung damai. Kedua belah pihak sepakat menyelesaikan persoalan melalui mediasi yang difasilitasi kepolisian di Mapolres Jember, Minggu (4/10/2026).
Perselisihan tersebut bermula dari potongan video terkait isu pengusiran pedagang Pasar Tanjung. Pernyataan yang muncul dalam video kemudian menimbulkan kesalahpahaman dan memicu saling sindir hingga ucapan yang dianggap menghina antar kedua kelompok.
Untuk mencegah persoalan berkembang menjadi gesekan di lapangan, Polres Jember bersama Bakesbangpol mempertemukan kedua belah pihak.
Dalam pertemuan tersebut, perwakilan Laskar Jahanam menyampaikan permintaan maaf atas pernyataan yang dinilai menyinggung Madas Sedarah.
Ketua DPC Madas Sedarah Jember, Agus Suwarno, mengatakan kedatangan pihaknya ke Jember bukan untuk mencari keributan, melainkan meminta pihak yang bersangkutan menyampaikan permintaan maaf.
“Kita datang ke Jember hanya ingin Bapak Suhadi meminta maaf kepada Madas Sedarah. Kami tidak ingin membuat kegaduhan di Jember. Madas Sedarah Jember juga memiliki slogan cinta damai dan kami tidak suka bertengkar,” ujar Agus.
Menurut Agus, pihaknya bersyukur permintaan tersebut akhirnya dipenuhi sehingga persoalan dapat diselesaikan secara kekeluargaan.
Sementara itu, Ketua Yayasan Laskar Jahanam, Dwi Agus Budianto, menyampaikan permintaan maaf mewakili organisasinya.
“Kalau memang itu salah, saya sebagai ketua harus meminta maaf atas apa yang terjadi dengan anggota saya. Karena teman-teman dari Madas Sedarah meminta yang bersangkutan mengakui kesalahan, maka sudah, mari kita akui,” kata Dwi.
Dwi menegaskan, pihaknya tetap akan mendampingi anggotanya. Namun, pendampingan tersebut tidak berarti harus memaksakan kehendak atau berhadapan dengan pihak lain.
Menurutnya, penyelesaian persoalan harus tetap mempertimbangkan masyarakat Jember yang terdampak.
“Apapun yang terjadi, kami pasti akan mendampingi. Tetapi dalam mendampingi tidak serta-merta memaksakan harus menang atau melawan siapapun. Kita harus berpikir kepada semua pihak yang terdampak karena mereka semua adalah masyarakat Jember,” jelasnya.
Dengan adanya mediasi tersebut, kedua kelompok sepakat menjaga kondusivitas Jember dan tidak lagi mengeluarkan pernyataan yang dapat memanaskan suasana.
Reporter: Anas H
Editor: Suyono
